Latest

Bu Dian Agustina Lemas Muncul Tagihan Rp 20 Juta, Anaknya Main Game Online

Daffi Abiyasha Thursday, April 18, 2019
Sempat viral cerita Ririn Ike Wulandari (37), seorang ibu di Kediri, Jawa Timur, mendapat tagihan pembayaran game online hingga lebih dari Rp 11 juta.

Tagihan itu ternyata dari permainan online yang kerap dimainkan anaknya yang masih berusia 12 tahun, dan duduk di bangku kelas 6 SD yakni Minecraft, Free Fire, dan Mobile Legend.

Nasib yang sama juga dirasakan seorang Dian Agustina.

Mantan pekerja media ini malah harus merogoh kocek sampai Rp 20 juta untuk membayar tagihan game online anaknya yang masih sekolah dasar dan berumur 11 tahun saat itu.

Cerita lengkapnya dituangkan di akun facebooknya 10 April 2019 lalu.

Lalai

Peristiwa ini sebenarnya terjadi tahun lalu. Tapi memang saya tidak ingin membagikan kisahnya karena saya malu dan merasa berdosa dengan anak saya.

Ya. Saya lalai menjaga mereka. Kini, kejadian ini saya bagikan kepada Bro & Sis semua untuk pengingat kita bahwa tugas kita sebagai orang tua adalah menjaga anak-anak sebaik-baiknya. Ingat, sebaik-baiknya.

Saya adalah pelanggan layanan pascabayar Matrix (Indosat). Nomor cantik 10 angka sudah saya punyai sejak 2005.

Jumlah tagihan saya per bulan rata-rata flat di angka Rp25-40 ribu.

Kenapa kecil? Karena memang paket yang saya beli adalah free abonemen. Selain itu, saya punya beberapa nomor lain dari provider berbeda sebagai secondary option.

Pada Februari 2018 tagihan saya melonjak drastis menjadi Rp11.594.706.

Saya belum sadar dan tidak melakukan pengecekan melalui customer service.


Tagihan bulan berikutnya datang dengan jumlah yang tak kalah fantastis, yakni Rp8.501.934. Dalam kurun dua bulan berturut-turut total tagihan saya adalah Rp20.096.640. Wow!! Fantastis!!

Saya shock. Kaget. Ketika cek-cek email, tak biasanya saya klik email Indosat Billing.

Saya sampai screen capture tagihan itu dan saya kirim ke suami untuk memastikan apakah mata saya sehat atau lagi error.

“Ini 20 ribu, 200 ribu, 2 juta, atau 20 juta.” Tanya saya.

“Kamu ngapain aja tagihan sampai 20 juta. Gila ini.” Jawab suami.

Saya lunglai. Saya cek satu per satu bukti transaksi. Jantung saya berdebar kencang.

Saya dapati angka-angka yang bikin mumet kepala. Pembelanjaan di codapay.

Berentet. Jarak waktu pembelanjaan tiap item hanya 5-15 menit. Setiap satu item yang dibeli seharga Rp454.545.
dian1
-

Wow!! Bayangkan, satu item barang yang dibeli itu seharga satu gram emas.

Saya kemudian menghubungi call center Indosat dan meminta penjelasan atas transaksi-transaksi yang dimaksud.




 

Disebutkan bahwa item-item itu dibeli secara online untuk bermain game online. Jebrett!

Saya menangis. Menangisi kebodohan saya yang lalai menjaga anak-anak saya dari serbuan games online yang kini juga menggerogoti anak-anak Indonesia.

Saya tidak sadar, sampai “dipukul” Allah dengan kejadian ini, bahwa tindakan kita (orang tua) memberikan “hiburan” dengan gadget itu adalah bencana. Bencana besar.

Singkat cerita, surat-surat tagihan dari Indosat kami “abaikan” untuk sementara hingga pada awal September 2018 kami mendapat “Surat Cinta” dari debt collector.





Isi suratnya adalah mengingatkan kami agar secepatnya melunasi tagihan atau akan membawa persoalan ini ke ranah hukum.

Ya sudah. Akhirnya saya datang ke gerai Indosat di Mal Mangga Dua.

Saya protes kepada petugas yang melayani saya, kenapa tidak ada pemberitahuan atau semacam alert dari mereka bahwa pemakaian saya di luar batas kewajaran.

“Ini dianggap sebagai pemakaian wajar, Bu. Ini normal.”

Jawaban standar CS yang bikin saya mau ngamuk. Jawaban yang tidak memiliki empati menurut saya.

“Jadi 20 juta itu wajar ya. Berapa banyak orang yang mengalami kejadian seperti saya?”

“Ada juga sih bu. Tapi memang jumlah ibu yang paling banyak.”

Campur aduk rasanya. Menyesal karena saya terlalu “loose” kepada anak-anak. Di sisi lain ini adalah tanggungjawab saya untuk melunasi tagihan karena persoalan sudah masuk ke ranah hukum.

To make the story short, saya melunasi “tagihan wajar” sebesar Rp20.096.640 itu pada 11 September 2018, selang tiga-empat hari sebelum pasukan debt collector datang ke kantor. Sakit banget rasanya kudu membayar 20 juta untuk sesuatu yang invisible.

Memang , kita tidak bisa menyalahkan operator, penyedia games, atau anak-anak sebagai pelakunya. Yang salah adalah kita. Kita harus introspeksi diri, sudahkah kita menjaga anak-anak kita dengan baik? Filter terbaik dari segala keburukan adalah dari rumah (keluarga).

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk bro & sis semua yang memiliki anak-anak usia sekolah, yang saat ini addict dengan gadget dan games online. Kontrol ada di tangan kita dan bukan di tangan penyedia games online.

Anak adalah ibarat kertas kosong putih. Tugas kita sebagai orang tua mewarnainya menjadi merah, kuning, biru, hijau.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews dengan judul Anaknya yang Masih SD Main Game Online, Dian Agustina Lemas Muncul Tagihan Rp 20 Juta

Seorang Ibu di Kediri yang Dapat Tagihan Game Online Rp 11 juta

Daffi Abiyasha Wednesday, April 17, 2019
Kediri - Ririn Ike Wulandari (37), seorang ibu di kota Kediri, Jawa Timur yang mendapat tagihan pembayaran game online anaknya hingga lebih dari Rp 11 juta, sedang berupaya menyelesaikan perkaranya itu.

Itu diungkapkannya melalui akun Facebook dengan nama Ririn Ike Wulandari.

Dia mengunggah beberapa artikel rentang waktu 5-10 April 2019.

Beberapa langkah yang diambilnya adalah menghubungi pengembang game hingga penyelesaian ke pihak provider.

Ririn mengaku sudah mendatangi pihak provider dan menjelaskannya.

Saat itu provider menawarkan opsi pembayaran dengan cara dicicil selama enam bulan.

Cicilan itu bisa dilakukan setelah membayar 50 persen dari tanggungan.

"Dicicil setelah bayar 50 persen," tulis Ririn dalam akun Facebook-nya itu.

Dia masih mempunyai kesempatan sebelum tenggang pembayaran tagihan pulsa pascabayar provider yang jatuh setiap tanggal 20.



Dari berbagai masukan yang disampaikan warganet, Ririn kemudian menghubungi pihak pengembang melalui saluran kontak pengembang yang ada pada masing-masing game online Minecraft, Free Fire, serta Mobile Legend.

Kepada pengembang itu dia tengah berupaya membatalkan pesanan-pesanan game online itu melalui history transaksi yang ada.

Hasilnya ada beberapa pesanan yang berhasil digagalkan.

Hingga 6 April, jumlah pesanan yang bisa dicancel itu mencapai Rp 1.197.000.

Pada 10 April, ada beberapa transaksi lainnya yang juga berhasil digagalkan.

Transaksi itu terjadi di akun game Minecraft dengan total tagihan Rp 789.000.

"Di game Minecraft ada dua transaksi yang ditagihkan, yaitu pembelian game senilai Rp 99.000 dan 50 item lainnya senilai Rp 690.000," ujarnya.

Kronologisnya

Tagihan itu ternyata dari permainan online yang kerap dimainkan anaknya yang masih berusia 12 tahun, dan duduk di bangku kelas 6 SD.

Adapun game yang dimainkan yakni Minecraft, Free Fire, dan Mobile Legend.

Melalui akun Facebook dengan nama Ririn Ike Wulandari, dia menceritakan kronologi tagihan itu.

Unggahan itu dibuatnya pada 5 April 2019 sore setelah mengetahui tagihan itu pada pagi harinya.

Dalam unggahanya itu, bermula saat Ririn, hendak membayar tagihan bulanan telepon pascabayar suaminya.

Saat itu, pembayarannya melalui beberapa aplikasi jasa pembayaran online gagal dengan keterangan kurang bayar.

Situasi itu menurutnya tidak lazim.

Mengacu pada bulan-bulan sebelumnya, tagihan teleponnya hanya kisaran Rp 40 ribu saja, dan saat ini merasa saldonya lebih dari cukup.

Ini memancing penasarannya yang diikuti dengan pengecekan menggunakan aplikasi lainnya, yaitu m-banking.

Dari sini diketahui tagihannya ternyata mencapai Rp 6 juta lebih.

Setengah tak percaya, Ririn, kemudian menginstal aplikasi layanan informasi dan pembayaran milik provider telepon langganannya itu.

Itu untuk memastikan apa yang baru saja dilihatnya dari m-banking itu, dan hasilnya sama.

"Di sana jelaslah terbaca oleh saya tagihannya 6.108.xxx. Saya panggil suami, dan kami shock berdua," lanjutnya.

Dari situ dia kemudian mencari tahu apa yang terjadi pada ponsel suaminya itu, dan menemukan adanya sambungan internet yang sudah berpindah dari provider yang dipakai sebelumnya.

Perpindahan ini tidak diketahui suaminya yang jarang utak-atik ponsel.

Meski sudah menemukan satu kunci jawaban itu, dia merasa tidak ada pemberitahuan sebagaimana umumnya yakni melalui SMS atas aktifitas yang tidak biasa itu.

Dia kemudian melakukan pengecekan email dan akhirnya menemukan pengaturan email yang belum tersinkronisasi.

Dan saat disinkronisasi itulah, semuanya menjadi terungkap.

"Dan, brudullah (datang bertubi-tubi) notifikasi di mana ada belasan tanda terima pembelian diamond di 3 game online yang saya tulis di atas," imbuhnya.

Rupanya pembelian itu semua dilakukan oleh anaknya.

Anaknya itulah yang menambahkan email dan nomor telepon bapaknya untuk tagihan pembelian diamond tersebut, tanpa sepengetahuannya.

Dia lalu bergegas pergi ke kantor provider untuk meminta cetakan transaksi tagihan dan terungkap Rp 6.745.829.

Tagihan itu ternyata hanya selama kurun waktu 3-28 maret sehingga belum semua transaksi masuk.

Saat dilakukan pengecekan lagi, pada tanggal 1-2 April Ririn, menemukan transaksi lainnya sebesar Rp 4.803.000 sehingga total tagihan yang ditanggungnya sebesar Rp 11.548.829.

Tagihan-tagihan itu atas transaksi berbagai macam pembelian tool game online yang harganya bervariasi.

Nilai pembelian itu ada yang Rp 15 ribu hingga Rp 1.499.000.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Kronologi Ibu di Kediri yang Dapat Tagihan Game Online Rp 11 juta

Abdul Quddus, the Jewish Youth of Prophet Muhammad

Daffi Abiyasha Saturday, March 09, 2019

One of the servants or slaves of the Prophet was Abdul Quddus. He is a Jewish youth who helps the Prophet in living his daily life. Abdul Quddus was tasked with combing the Prophet's hair.

Abdul Quddus's position - as a messenger of the Prophet - was once used by a group of Jews who were not happy with the Prophet. They asked Abdul Quddus the Prophet's hair to fall out. Abdul Quddus, who was still young, was not suspicious. He just gave the hair of the Prophet who fell to them. Without any slight suspicion that it will be made to harm his employer.

Sure enough, the Prophet's hair turned out to be used as an intermediary to send black magic.

It was Labid bin al-A'sham who did that. But unfortunately, the effort failed. The magic he sent did not work because the Prophet was guarded directly by Allah.

Abdul Quddus was so kind and considerate of the Prophet. He always serves the Prophet everyday in carrying out his activities. Differences in religion and ethnicity did not make Abdul Quddus hate the Prophet. Abdul Quddus gave service to the Prophet sincerely and sincerely.

Vice versa. The Messenger of Allah was very attentive to his servants, including Abdul Quddus. The Prophet took the time to visit Abdul Quddus when his servant fell ill.

The Messenger of Allah sits right above Abdul Quddus's head who is lying limp. The Messenger of Allah was sorry to see Abdul Quddus's condition because at that time the maid was dying. He then called for Abdul Quddus to embrace Islam. Abdul Quddus didn't immediately say it. He asked permission from his father who at that time was also in one room.

"Please you follow the teachings of Abul Qasim (Muhammad), Abdul Quddus's father was willing to convert to Islam," answered the young Jewish father, as in the hadith of Bukhari's history.

So Abdul Quddus finally converted to Islam.

The Messenger of Allah who invited Abdul Quddus without coercion was happy after Abdul embraced Islam. The Prophet prayed that Abdul Quddus would be free from the torments of hellfire.

Thus the Messenger of Allah behaved to his servants or slaves. He does not discriminate between servants or slaves based on religion or tribe. Nor did it force his servants to convert to Islam.

Instead the Prophet only offered to his non-Muslim servants to embrace Islam. He treats all his helpers well and equally.

Because for the Messenger of Allah, slaves or servants are like brothers. Therefore, the Prophet gave food and clothes to his servants as he ate and used them. Not different. So even with Abdul Quddus, his servant who is a Jew.

Actually there are many servants or slaves of the Prophet, not only Abdul Quddus. But all the slaves or servants of the Prophet were freed later.

Kenapa Anda Bersedih karena Sandal Hilang di Masjid

Daffi Abiyasha Saturday, March 09, 2019
"Wahai Syekh, engkau adalah seorang ulama yang terkenal alim nan zuhud di seantero negeri ini. Namun, gerangan apa yang membuat engkau menangisi alas kakimu yang hilang?"

Bisyr adalah seorang ulama sekaligus wali Allah yang masyhur pada masanya. Murid-muridnya datang dari daerah yang berbeda-beda. Seperti layaknya seorang guru, Bisyr-lah yang memimpin segala ritual keagamaan.

Suatu ketika ia sedang mengimami shalat berjamaah. Layaknya amaliah ulama salafus shalih, selesai shalat, Bisyr tak lantas beranjak dari pasujudannya. Ia lantas menyambungnya dengan rapalan dzikir tasbih, tahmid, takdir, dan juga tahlil yang diakhiri dengan doa, sedangkan murid-muridnya mengamini belakangan.

Ketika berniat undur diri setelah ibadah, Bisyr terhenti langkahnya di ambalan masjid. Terompah yang tadi ia pakai berangkat jamaah, telah raib hilang entah ke mana. Ia terpekur sejenak, kemudian linangan air mata membasahi kedua pipinya.

Duhai, betapa keheranan para muridnya. Seorang guru alim nan bersahaja yang mereka cintai menangis tersedu sedan hanya karena kehilangan alas kaki yang notabenenya perkara duniawi. Dengan terbata, salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya pada sang guru,

"Wahai Syekh, engkau adalah seorang ulama yang terkenal alim nan zuhud di seantero negeri ini. Namun, gerangan apa yang membuat engkau menangisi alas kakimu yang hilang?"

Mendengar pertanyaan muridnya, Bisyr tak lantas menjawab. Ia masih saja diam meratapi sesuatu yang sungguh berbeda dengan apa yang dilihat oleh muridnya. Sembari menghela napas ia berkata,

"Muridku, tangisanku sama sekali menyesali sandalku yang hilang. Melainkan aku menyesalkan akan diriku sendiri. Ya, tahukah engkau muridku, sesungguhnya aku sangat menyesal mengapa diriku membawa alas kaki yang menarik pandangan mata orang lain. Sehingga orang tersebut memberanikan diri maksiat kepada Allah dengan mencuri. Oh, aku begitu menyesal. Oleh sebabku, ia berani mendurhakai Allah subhanahu wata'ala."

Sontak seluruh muridnya pun tertunduk malu. Ternyata pandangan luaran semata telah mengaburkan sifat takzim, hormat kepada guru. Akhirnya setelah kejadian itu, Bisyr pun tak berani lagi memakai alas kaki. Hingga di kalangan penduduknya ia pun diberi gelar al-hafi, orang yang tidak memakai alas kaki (nyeker).

Seperti itulah akhlak dari salafus salih, ulama terdahulu nan alim dan rajin beribadah. Mereka begitu pandai memalingkan nafsu amarah kepada pandangan penuh hikmah ilahiyah. Mereka tak mudah untuk marah dan menyalahkan keadaan. Sebaliknya mereka justru mensyukuri segala sesuatu yang terjadi sebagai takdir terindah utuk diambil hikmah, sari pati pelajaran kebijaksanaan. 


Dikisahkan oleh KH Muhammad Shofi Al Mubarok Baidlowie, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, saat pengajian Kitab Tafsir Jalalain.  

(Ulin Nuha Karim - Nu Online )

Keutamaan Shalawat : Kisah Pemabuk Ditinggikan Derajatnya Berkah Shalawat

Daffi Abiyasha Saturday, March 09, 2019

Orang-orang mukmin yang bersholawat kepada Nabi Muhammad, berarti ia telah melaksanakan perintah Allah ta’ala di dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab: 56)

Makna sholawat Allah kepada Nabi dan hamba-Nya ialah pujian dan sanjungan Allah kepadanya di hadapan para malaikat yang mulia yang berada di sisi-Nya. Sedangkan makna sholawat Para malaikat kepada Nabi dan orang-orang yang beriman ialah Doa. Maksudnya para malaikat mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan kepada Allah bagi Nabi shallallahu alai wasallam dan kaum mukminin.


Barangsiapa bersholawat kepada Nabi Muhammad satu kali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali sholawat.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:


أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا


Telah mengabarkan kepada kami ['Ali bin Hujr] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Ja'far] dari [Al 'Alaa] dari [Bapaknya] dari [Abu Hurairah] dari Nabi Shallallahu'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan mengucapkan shalawat kepadanya sepuluh kali." ( Hadits Nasai Nomor 1279 )

Banyak kisah menakjubkan yang dialami oleh ahli shalawat. Nabi menjelaskan bahwa bacaan shalawat yang dibacakan oleh umatnya akan dibalas sepuluh kali lipat. Sebagian ulama bahkan menegaskan shalawat dapat menuntun seseorang menempuh jalan suluk. Shalawat sebagaimana ayat suci Al-Qur’an bernilai pahala dengan membacanya, meski tidak mengerti kandungan artinya, berbeda dengan dzikir-dzikir yang lain.


Kisah Pemabuk Ditinggikan Derajatnya Berkah Shalawat
 

Ada satu kisah menarik berkaitan dengan keutamaan membaca shalawat. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Tanqih al-Qaul. Syekh Nawawi mengutip cerita ini dari sebagian kaum sufi.

Diceritakan bahwa salah seorang tokoh sufi memiliki  tetangga yang pemabuk. Kegemarannya menenggak minuman keras berada dalam taraf di luar kewajaran, melebihi batas, hingga ia tidak bisa membedakan hari, sekarang, besok atau kemarin. Ia hanyut dalam minuman keras. Pemabuk ini berulang kali diberi nasihat oleh sang sufi agar bertobat, namun ia tidak menerimanya, ia masih tetap dengan kebiasaan mabuknya.

Yang menakjubkan adalah saat pemabuk tersebut meninggal dunia, dijumpainya oleh sang sufi dalam sebuah mimpi, ia berada dalam derajat yang luar biasa mulia, ia memakai perhiasan berwarna hijau, lambang kebesaran dan kemegahan di surga.

Sang sufi terheran-heran, ada apa gerangan? 


Mengapa tetangganya yang seorang pemabuk mendapat kedudukan semulia itu. Sang sufi bertanya:


بِمَا نِلْتَ هَذِهِ الْمَرْتَبَةَ الْعَلِيَّةَ

Artinya: “Dengan sebab apa engkau memperoleh derajat yang mulia ini?”

Kemudian pemabuk menjelaskan ihwal kenikmatan yang dirasakannya:



حَضَرْتُ يَوْمًا مَجْلِسَ الذِّكْرِ فَسَمِعْتُ الْعَالِمَ يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ثُمَّ رَفَعَ الْعَالِمُ صَوْتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعْتُ صَوْتِيْ وَرَفَعَ الْقَوْمُ أَصْوَاتَهُمْ فَغَفَرَ لَنَا جَمِيْعًا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ فَكَانَ نَصِيْبِيْ مِنَ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ  أَنْ جَادَ عَلَيَّ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ

 

Artinya: “Aku suatu hari menghadiri majelis dzikir, lalu aku mendengar orang alim berkata, barangsiapa bershalawat kepada Nabi dan mengeraskan suaranya, surga wajib baginya. Lalu orang alim tadi mengeraskan suaranya dengan bershalawat kepada Nabi, aku dan jamaah juga menegeraskan suara seperti yang dilakukan orang alim itu. 
Kemudian Allah mengampuni kita semuanya pada hari itu, maka jatahku dari ampunan dan kasih sayang-Nya adalah Allah menganugerahkan kepadaku nikmat ini.”

Demikian keagungan dan kehebatan membaca shalawat, hingga dirasakan manfaatnya oleh seorang pemabuk. Kisah tersebut terang saja bukan hendak membenarkan praktik mabuk-mabukan yang memang diharamkan dalam Islam. 


Cerita itu sekadar merefleksikan keistimewaan shalawat yang bisa mengantarkan seseorang pada samudera kasih sayang dan pengampunan Allah ﷻ. Semoga kita senantiasa diberikan pertolongan oleh Allah untuk istiqamah membaca shalawat dan diakui sebagai umat baginda Nabi ﷺ.

Refferensi  :
http://www.nu.or.id/post/read/99774/kisah-pemabuk-ditinggikan-derajatnya-berkah-shalawat